Renungan Harian

Kamis, 23 Okt 2014
Yohanes dr Kapestrano, Gulielmus
Ef. 3:14-21; Mzm. 33:1-2,4-5,11-12,18-19; Luk. 12:49-53.

"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

Setiap orang yang ingin menjadi pengikut Kristus yang sejati, pasti mengalami pertentangan. Semakin menyala dan berkobar api untuk mengikuti-Nya, semakin besar pula pertentangan-pertentangan yang harus kita hadapi. Pertama-tama, kita harus menyangkal diri dan menentang segala bentuk egoisme kita. Namun, mungkin kita juga harus bertentangan dan berseberangan dengan orang-orang di sekitar kita. Kita harus berani hidup dengan melawan arus dari kebanyakan orang. Sebagai contoh kecil misalnya: ketika masyarakat kita melegalkan aborsi untuk kasus-kasus tertentu, kita sebagai pengikut Kristus harus berani berseberangan, baik dalam pemikiran maupun praktik untuk secara tegas menolak aborsi. Kita tahu bahwa aborsi itu jauh lebih kejam daripada membunuh sebab yang kita bunuh adalah orang yang sangat lemah dan sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan dan pembelaan diri sedikitpun. Kalau yang diaborsi itu adalah bayi hasil perkosaan, itu berarti si "ibu" itu egois karena demi kebebasan dan kebahagiaannya, ia mengorbakan anaknya yang lemah, tidak tahu apa-apa dan tidak berdosa.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk berani menyangkal diri dan melawan arus yang tidak baik dalam masyarakat kami, agar api untuk menjadi pengikut-Mu semakin berkobar. Amin.