Renungan Harian

Rabu, 29 Okt 2014
Mikael Rua, Gaetano Errico

Ef. 6:1-9;
Mzm. 145:10-11,12-13ab,13cd-14;
Luk. 13:22-30.

Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."

Keselamatan adalah anugerah dari Tuhan bagi semua orang di seluruh penjuru dunia, baik dari timur, barat, utara maupun selatan. Namun bukan berarti kita hanya pasif, diam saja atau bahkan berbuat semuanya, tahu-tahu diselamatkan. Tidak! Yesus menegaskan bahwa kita harus berjuang untuk menerima anugerah keselamatan itu. Ia menggambarkan bahwa perjuangan tersebut ibarat usaha seseorang untuk memasuki pintu yang sempit. Kita pasti tahu bahwa untuk memasuki pintu yang sempit kita harus saling bekerjasama dan tolong menolong. Kalau kita saling berebut, saling dorong dan saling sikut tentu yang terjadi bukan keselamatan tetapi justru kesengsaraan dan penderitaan. Salah satu bentuk tolong-menolong ini, misalnya terjadi pada saat kita mendoakan jenazah atau arwah. Di satu pihak, orang yang sudah meninggal dan masih dalam perjalanan atau penantian untuk masuk surga dibantu dengan doa-doa kita. Di pihak lain, mereka pun juga dibantu dengan doa-doa yang dipanjatkan tanpa henti oleh para kudus, yakni saudara/i kita yang sudah mulia di surga. Selain itu, untuk memasuki pintu yang sempit, kita juga tidak bisa membawa banyak barang atau beban. Oleh karena itu, kita harus berani melepaskan beban-beban pikiran dan perasaan, termasuk kebencian, dendam dan prasangka buruk terhadap orang lain. Itu semua merintangi kita memasuki pintu sempit menuju Kerajaan Surga.

Doa: Tuhan, semoga karena rahmat-Mu kami saling tolong-menolong untuk menanggapi rahmat keselamatan dari-Mu sekaligus berani mepelaskan setiap beban yang merintangi langkah kami menuju kepada-Mu. Amin. -agawpr-