Renungan Harian

Sabtu, 23 Nov 2014
Peringatan Wajib St. Sesilia
Why. 11:4-12; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 20:27-40.

Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Kita tidak tahu persis kehidupan semacam apa yang dialami di surga setelah kehidupan di dunia ini. Namun, yang jelas, kehidupan di surga merupakan kehidupan yang sama sekali baru. Merupakan kehidupan yang abadi karena tidak lagi mengalami kematian. Hidup sebagai anak-anak Allah yang sepenuhnya dan seperti malaikat. Seorang imam yang sekarang sudah mulia di surga pernah mengatakan bahwa di surga tidak ada lagi urusan perkawinan. Orang-orang yang sudah di surga, tidak lagi hidup dalam perkawinan lalu melahirkan anak. Sebab, anak-anak Allah di surga, tidak lahir dari hasil perkawinan tetapi datang dari dunia kita ini. Setiap orang beriman yang meninggalkan dunia ini, setelah selesai masa penyucian, akan masuk surga, menjadi penghuni surga selama-lamanya sebagai anak-anak Allah. Itulah masa depan kita.

Doa: Tuhan, Engkau telah menyediakan masa depan yang begitu cerah bagi kami, para beriman. Semoga, mulai sekarang kami senantiasa mempersiapkan diri menyongsong masa depan kami itu. Amin. -agawpr-