Renungan Harian

Kamis, 24 April 2014
Oktaf Paskah
 
Kis 3:11-26
Mzm 8:2ab.5.6-7.8-9
Lukas 24:35-48

Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” ... Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.

Kalau kita kehilangan saudara yang sangat kita cintai, yang selama ini menjadi andalan hidup dan tumpuan masa depan kita, wajar jika kita merasa sangat sedih, bingung, putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Kurang lebih, demikianlah situasi para murid berhadapan dengan wafat Yesus yang barusaja terjadi. Hati mereka diliputi kesedihan, kebingungan, ketakutan dan keputus-asaan. Yesus yang selama ini menjadi andalan dan sekaligus diharapkan menjadi tumpuan masa depan mereka, kini telah tiada. Mereka sungguh-sungguh mengalami kegelapan. Oleh karena itu, ketika mereka mendengar warta tentang kebangkitan-Nya, mereka tidak mudah mengerti dan percaya. Bahkan, kehadiran-Nya secara fisik di tengah-tengah mereka pun belum mampu membangkitkan iman mereka. Namun, Yesus tetap sabar dan tidak putus asa. Ia tetap konsisten akan kehadiran-Nya untuk membawa damai sejahtera. Berhadapan dengan para murid yang lamban untuk mengerti dan percaya itu, Ia tetap tenang, tidak marah dan kecewa. Dengan sabar, Ia kembali menerangkan Kitab Suci dan membuka pikiran mereka sampai mereka benar-benar mengerti dan akhirnya siap untuk diutus menjadi saksi-saksi-Nya. 

 
Hal yang sama juga senantiasa kita alami. Setiap saat, Tuhan selalu ada untuk kita, juga pada saat kita mengalami kegelapan, kebingungan, ketakutan dan keragu-raguan. Oleh karena itu, kalau kita menghadapi situasi seperti itu, kita harus mau membuka hati kepada Tuhan yang datang membawa damai sejahtera dan membuka pikiran kita sehingga kita mengerti apa yang harus kita lakukan sesuai dengan kehendak-Nya.
 
Doa: Tuhan, bukalah selalu pikiranku, lebih-lebih saat aku mengalami kegelapan, kebingungan, ketakutan dan keragu-raguan sehingga aku mengerti apa yang harus aku lakukan sesuai dengan kehendak-Mu. Amin. -agawpr-