Renungan Harian

Selasa, 27 September 2016
Pw. St. Vinsensius a Paulo
Ayb. 3:1-3,11-17,20-23;Mzm. 88:2-3,4-5,6,7-8; Luk. 9:51-56.

"Mereka pergi ke desa yang lain" (Luk 9,56)

Selama ini, mungkin yang kita kenal sebagai murid yang emosional hanya Petrus. Namun, ternyata dua bersaudara, Yohanes dan Yakobus pun demikian. Ketika ditolak oleh orang-orang Samaria, mereka tidak terima dan bermaksud memamerkan kehebatan mereka dengan menurunkan api dari sorga untuk membinasakan orang-orang Samaria tersebut. Mereka pun kemudian ditegur oleh Yesus: Ia tidak menginginkan kekerasan apa pun sampai terjadi, sekalipun untuk membela-Nya. Ia memilih untuk mengajak para murid pergi ke tempat lain. Sama persis dengan apa yang dilakukan-Nya, ketika Ia ditolak di Nazaret (Luk 4,30). Mungkin, kita pun cenderung seperti Yohanes dan Yakobus ini. Tidak selalu siap untuk mengalami penolakan. Ketika kehadiran dan ide atau usulan kita tidak diterima, spontan kita marah. Bisa jadi juga mutung. Hari ini, Yesus mengajari kita untuk selalu siap ketika suatu saat mengalami penolakan. Tidak diterima bukanlah alasan untuk berhenti atau mutung. Masih ada cara atau jalan lain yang dapat kita tempuh untuk tetap memperjuangkan misi dan tujuan baik kita.

Doa: Tuhan ajarilah kami untuk bersikap sabar dan rendah hati. Amin. -agawpr-