Renungan Harian

Senin, 20 Okt 2014
Magdalena dr Nagasaki, Kaprasius
Ef. 2:1-10; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 12: 13-21.

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Ketamakaan merupakan salah satu bentuk kejahatan yang mengancam kehidupan bersama. Karena adanya orang-orang yang tamak, maka kekayaan alam dieksploitasi sehingga rusak dan tidak lagi menjadi tempat tinggal kita yang aman dan nyaman. Karena ketamakan pula, orang mengambil yang bukan haknya sehingga orang lain menjadi korban ketidakadilan dan mengalami kemiskinan. Untuk itu, marilah kita perhatikan baik-baik peringatan dari Yesus ini, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan!" Ketamakan, selain merugikan dan mencelakakan banyak orang, juga tidak memberi jaminan apa-apa untuk masa depan kita. Tuhan lah yang menjamin hidup dan masa depan kita sehingga kita harus menjadi orang yang kaya di hadapan Allah. Dan di sinilah berlaku apa yang disebut paradoks. Untuk menjadi kaya di hadapan Allah, justru kita harus mau berbagi dan memberikan yang kita miliki.

Doa: Tuhan, bebaskanlah kami dari sikap tamak dan berilah kami hati yang pemurah untuk berbagi. Amin.