Renungan Harian

Jumat, 06 Maret 2015

Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. (Kej 37:4)

It's true kalau dikatakan dunia ini penuh penghakiman, lebih tepatnya bukan dunianya melainkan manusianya.
Siapa manusia yang tidak menilai sesamanya? Penilaian timbul dari penglihatan dan hati.
Lihat orang pakai baju bermerk kita bilang 'sombong banget sih, baju aja beli ratusan ribu bahkan jutaan, ngabisin duit aja (lah, padahal bukan duit kita yang dipakai)'.
Lihat orang naik mobil baru kita bilang 'beli mobil dapat duit dari mana, jangan-jangan korupsi'.
Lihat orang berhasil di studinya kita bilang 'ah paling juga hasil nyontek ama deketin dosen'.
Lihat orang naik jabatan kita bilang 'iyalah,dia kan selalu cari muka depan Bos'.
Lihat orang susah kita bilang 'pantes aja, banyak gaya sih hidupnya, susah deh'
Sadar ga sih kadang kita jadi orang yang susah lihat orang senang, senang lihat orang susah?
Saya sering kali iri hati melihat orang yang sudah berhasil, punya mobil, disenangi banyak orang, dan lain sebagainya. Lantas saya mengirim pertanyaan ke Tuhan 'kenapa sih Tuhan pilih kasih? Kenapa Tuhan lebih sayang dia yang sering malas-malasan, hidupnya main-main terus..malah saya yang kerja keras, tidak curang, tidak mendapatkan reward seperti yang Tuhan kasih ke orang lain'
Sikap ini membentuk karakter tidak bisa dan tidak mau mengakui kelemahan diri, tidak cukup rendah hati menerima keberhasilan dan kegembiraan orang lain.
Tapi hari ini ditegaskan bahwa Janji Tuhan ya dan amin, kalau kita berlaku benar dan jujur, maka Tuhan akan mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar lagi pada kita.
Sanggupkah saya berlaku benar yang sebenar-benarnya dan jujur sejujur-jujurnya?

Doa: ya Tuhan, rahmatilah aku dengan sukacita dan damai sejahtera agar hidupku bebas dari iri hati dan dengki, sebaliknya dengan kerendahan hati aku dapat menjalani hari-hariku dan menjadi berkat bagi banyak orang.Amin