Renungan Harian

Jumat, 25 Juli 2014
Pesta Santo Yakobus, Rasul

2 Kor 4:7-15
Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.7
Mat 20:20-28

"Cawan-Ku akan kamu minum"

Selama ini, kita cenderung berpikir negatif atas permintaan Yohanes dan Yakobus yang diwakili oleh ibunya ini. Kita sering mengganggap bahwa mereka meminta jabatan atau kekuasaan kepada Yesus. Namun, hari ini, kita menerima pencerahan yang lain. Bukankah permohonan Yohanes dan Yakobus tersebut juga selalu menjadi permohonan kita, baik dalam doa pribadi maupun dalam doa-doa resmi Gereja, di mana kita mohon agar kelak diperkenankan untuk memasuki rumah Bapa di surga dan tinggal bersama-Nya dalam damai untuk selama-lamanya. Dalam doa arwah, kita berperan seperti ibu mereka, di mana kita memohonkan saudara/i kita yang sudah meninggal agar diperkenaknan mengalami kebahagiaan abadi di surga bersama Tuhan. Dalam setiap Doa Syukur Agung, yang adalah doa resmi Gereja, juga selalu ada bagian di mana kita mendoakan orang yang sudah meninggal. Misalnya dalam DSA II, "Ingatlah akan saudara-saudari kami, kaum beriman, yang telah meninggal dengan harapan akan bangkit, dan akan semua orang yang telah berpulang dalam kerahiman-Mu. Terimalah mereka dalam cahaya wajah-Mu. Kasihanilah kami semua agar kami Engkau terima dalam kebahagiaan abadi ..." Jadi, permohonan ini tidak keliru tetapi baik. Yang penting adalah bagaimana kita menerima dan menjalani konsekuensi atas permohonan kita tersebut.

Atas permohonan mereka ini, Yesus menjawab, "Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Meminum cawan, inilah konsekuensinya. Apa artinya? Di taman Getzemani, ketika hendak menjalani sengsara dan wafat-Nya, Yesus berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku ..." (Mat 26:39). Jadi, cawan di sini mempunyai arti kiasan, yakni lambang nasib atau penderitaan manusia (Mzm 75:9). Minum cawan berarti: menerima kesengsaraan (Yer 49:12; Mat 20:22). Itulah makanya, dalam bacaan II, St. Paulus menegaskan, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami." (2 Kor 4:10). Dengan demikian, kita diingatkan bahwa jalan menuju ke rumah Bapa di surga, adalah jalan salib, jalan derita yang seringkali harus kita alami bukan karena kesembronoan kita tetapi karena pengorbanan demi pengabdian kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama (Mat 20:26-28).

St. Yakobus, yang kita rayakan hari ini, menjadi teladan bagi kita. Ia mewartakan Injil hingga ke Spanyol sampai akhirnya wafat sebagai martir, yaitu pada saat ia kembali ke Yudea. Raja Herodes Agrippa melakukan kekerasan terhadap Gereja karena begitu cepat pertumbuhannya sehingga membuat resah bangsa Yahudi. Maka, untuk membendung persebaran iman Kristiani, “Ia membunuh Yakobus, saudara Yohanes dengan pedang” (Kis 12:1-2). Saat itulah terbukti sungguh bahwa ia telah berkomitmen dengan apa yang telah ia katakan kepada Yesus bersama Yohanes. Ia bersedia minum dari cawan yang Ia minum, dan bersedia untuk dibaptis dengan baptisan kesengsaraan-Nya. Ia telah mengambil bagian dalam sengsara dan wafatNya untuk meluaskan kerajaan Allah (bdk. Mrk 5:38-39). Bagaimana dengan kita? Hendaknya kita selalu ingat bahwa "Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm 8:18).

Doa: St. Yakobus, doakanlah kami untuk meneladan komitmen-Mu dalam menanggung penderitaan demi pengabdian kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama, sehingga kelak kami pun layak mendapat anugerah kebahagiaan abadi bersamamu dan para kudus di surga. Amin.


Pokok-pokok Iman Katolik
Santo-Santa
 
Doa Katolik